Archive for Maret, 2011

LP3I Ekonomi Kreatif dalam “AMINAH” Buku Karya Pertama Marissa Haque Fawzi

Senin, Maret 28th, 2011

“Aminah”

Oleh: Marissa Haque Fawzi

Diterbitkan oleh PT. Remaja Rosda Karya, Bandung, 1999

Aminah adalah seorang gadis kecil berjilbab. Ia hidup didaerah kumuh yang berdebu ditepi pantai Sampur, Jakarta.

Rumah-rumah disana terbuat dari papan dan kardus bekas. Sampah menggunung. Kaleng-kaleng bekas yang sudah berkarat bertebaran disana-sini. Dicelah-celah jendela, jemuran-jemuran bergantungan menunggu kering. Sebagian lagi bergantungan diatas tali-tali yang terbentang.

aminah-kaya-marissa-haque-yg-pertama-1999.jpgAminah tinggal bersama ibunya. Setiap hari setelah selesai sholat Subuh, mereka menerima cucian yang dititipkan oleh keluarga-keluarga kaya dari luar lingkungan mereka.

Sehabis menjemur semua pakaian tersebut, Aminah pergi bermain-main kepantai didekat rumahnya. Biasanya ia bermain diantara karang-karang diatas pasir. Terkadang beberpa anak kecil lainnya bermain bersamanya. Pada kesempatan lain, ia lebih suka sendirian. Berdiam diri memandang gelombang pasang yang berkejaran menerpa karang. Dibiarkannya desir angin memainkan ujung-ujung jilbabnya.

Malam harinya Aminah berjualan kembang. Aminah mengelompokkan kembang tersebut sesuai warnanya; mulai dari warna merah muda, jingga, putih, dan ungu. Bersama Halimah sahabatnya mereka menjual bunga-bunga tersebut dijalan dekat lampu merah. Disana banyak anak-anak sebayanya bermain-main.

Malam itu tak ada bulan. Bintangpun enggan menampakka dirinya. Langit hitam pekat tertutup awan. Walaupun malam terasa panas, kedua anak itu menggigil kedinginan sampai ketulang sumsum.

Aminah dan Halimah berjalan menjajakan kembangnya. Mereka sampai disebuah jalan yang penuh dengan lampu beraneka warna. Hingar bingar kendaraan bermotor dan orang-orang yang berlalu lalang.

Tercium bau garam laut bercampur bau polusi yang berasal dari knalpot kendaraan-kendaraan bermotor yang bunyinya memekakkan telinga.

Aminah dan Halimah berjalan dianata mobil-mobil. Menawarkan kembang kepada para pengendara. Ketika bunyi klakson nyaring menyentak, Aminah dan Halimah buru-buru menyingkir.

Seorang wanita tertarik membeli lima tangkai kembang. Aminah dan Halimah tidak dapat menatap wajahnya, karena hanya tangannya saja yang terjulur keluar melalui celah jendela mobil. Wanita itu memberikan uang lima ribu rupiah.

Ketika lampu berubah warna menjadi hijau, mereka berdua kembali duduk sambil menatap kendaraan-kendaraan yang melaju kencang. Lampu-lampu jalan yang bersinar sangat terang, membuat bayangan pohon disekitarnya menjadi semakin dalam. Angin laut bertiup sepoi-sepoi. Udara makin dingin. Malam semakin larut.

Tiba-tiba terdengar bunyi tangisan keras yang menimpali bunyi kendaraan yang berlalu lalang. Aminah tahu siapa yang menangis. Segera didatanginya suara itu.

Seorang anak lelaki menggeliat diatas pangkuan ibunya. Sang ibu menepuk-nepuk punggung sang bocah sambil bersenandung lirih sampai sang bocah tertidur.

Aminah melihat kacang rebus jualan si ibu masih menggunung, belum laku. Ah, kasihan sekali. “Apa khabar Aminah? Banyak laku jualanmu?”, sapa ibu penjual kacang rebus itu. Namanya Ibu Rimpi. “Baru sedikit,” jawab Aminah.

“Anakku ini menangis terus sepanjang hari. Tapi kami tak dapat pulang dulu krtumah kalau belum dapat uang. Lihat jualanku hari ini masih sangat banyak tersisa.” Senyum ibu Rimpi terlihat sangat getir sembari menatap wajah-wajah cilik dihadapannya yang manis, jujur, dan polos serta mempunyai kulit yang halus, mata yang bening, dan senyum yang tanpa beban

Tiba-tiba anak lelakinya menangis lagi. Maka tahulah Aminah dan Halimah bahwa anak lelaki tersebut kelaparan dan kedinginan.

Dengan uang lima ribu rupiah hasil penjualan mereka malam itu, Aminah dan Halimah bergegas membeli makanan dan minuman hangat di sebuah warung dipinggir jalan dekat tempat mereka mangkal. Uang sebanyak itu cukup untuk membeli empat gelas teh manis dan lima potong pisang rebus. “Ah, betapa mahalnya harga makana sekarang ini,” gumam Aminah.

Aminah dan Halimah membawakan makanan dan minuman itu ketempat Ibu Rimpi dan anakknya. Mereka berempat melahapnya dengan nikmat.

Tiba-tiba Aminah merasakan perutnya sakit bukan alang kepalang. “Ya Allah…apa yang terjadi dengan diriku ini?”, gumamnya. Halimah, Ibu Rimpi dan anak lelakinyapun terlihat kesakitan. Mereka semua limbung dan jatuh ketanah.

Tiba-tiba dunia terasa semakin kelam dari malam sesungguhnya. Aminah tak mampu lagi bernafas. Namun ia masih berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dalam lemahnya ia berdoa: “La ilaha Illa anta subhanaka inni kuntu minadz dzalimiin.” Yang artinya ‘Maha suci Engkau, Maha Mulia Engkau, hamba ini seorang aniaya’ (doa Nabi Yunus ketika diperut ikan Paus). Tidak ada tempat lain untuk berlindung serta memohon pertolongan kecuali kepada-Nya.

Aminah keracunan makanan. Semua terjadi akibat pabrik-pabrik yang tak bertanggung jawab membuang limbah di Teluk Jakarta, dilokasi Aminah didaerah Sampur. Lalat-lalat berterbangan diparit-parit dan jamban-jamban dekat rumahnya. Menghinggapi makanan dan minuman yang dibelinya, meninggalkan racun dan kotorannya disana.

Tiba-tiba tercium bau semerbak, wangi sekali. Langit kelam tiba-tiba menjadi terang. “Apa yang terjadi? Dimanakah aku?” Aminah kebingungan. “Apa yang harus aku lakukan?”


Desir ombak terdengar. Semakin lama semakin keras. Kaki-kaki mungil Aminah serasa menginjak air laut ditepi pantai. Anginpun seakan membisikkan sesuatu ditelinganya.

Aminahpun teringat akan kembang yang masih digenggamnya. Dipandanginya sesaat, sampai tiba-tiba terbersit sesuatu didalam pikirannya. Dilemparkannya kembang-kembang itu dilangit.

Langit pekat berganti terang, cahaya putih bersinar, membuat bintang-bintang tampak terang benderang. Aminah melihat orang-orang berhenti bercakap-cakap. Tak ada lagi deru kendaraan yang membisingkan. Wajah orang-orang terlihat bersih dan bersinar, menebar senyum dimana-mana. Betapa tenteram, betapa indah.

Perlahan Aminah berjalan meyusuri tepian pantai, pulang kerumah. Sendirian, terlepas dari kerumunan orang banyak. Mengikuti arah sinar, nun didepan sana. Samar-samar terlihat bayangan ayahnya. Tapi Aminah merasa tak pasti. Ia terus membaca shalawat. Mengayuhkan kaki kecilnya, ia ingin menemui ibunya dirumah.

Aminah terus berjalan dibawah kaki langit yang penuh rahasia. Ditatapnya taburan cahaya yang bersinar. Bintang-bintang nun jauh disana adalah miliknya.

***

Resensi: “AMINAH” (Gadis Kecil di Tepi Pantai)

Pendidikan Moral dan Lingkungan untuk Anak dalam Dua Bahasa, Penerbit Rosda Karya Bandung



Marissa Haque Fawzi, ibu dua remaja puteri dan istri dari Ikang Fawzi (penyanyi rock) merupakan artis berintelektual tinggi. Selain menempuh program S2 ia akan melanjutkan studinya di Inggris. Ia sangat mencintai anak-anak dan dunia pendidikan sebagaimana ia mencintai dunia seni dan sastra.

Marissa Haque Fawzi sangat profesional dalam berbagai bidang , bintang film dan sinetron, model iklan, pembicara dan moderator pada berbagai seminar dan presenter acar televisi. Buku pertamanya “Aminah” yang imajinatif ini berisi pengetahuan lingkungan, dipersembahkan untuk orang-orang yang dicintainya.

Dari cover “Aminah” yang menarik, pembaca tidak akan mengetahui bahwa pemaparan cerita menggunakan dua bahasa yakni Inggris dan Indonesia. “Aminah” merupakan cerita yang sederhana dan mudah dicerna oleh anak-anak siswa SD dan SMP. Perlu bantuan orang dewasa untuk membacakan teks yang berbahasa Inggris bagi anak yang belum mengerti bahasa Inggris.


Alkisah seorang gadis kecil berjilbab yang hidup di daerah kumuh. Ia harus harus mencari nafkah dengan membantu ibunya mencucikan pakaian orang kaya di pagi hari. Petang hari bersama teman sebayanya ia berjualan kembang di perempatan jalan. Pada suatu petang ia bersama sahabatnya membelikan makanan untuk dinikmati bersama seorang ibu dan anaknya yang menangis karena lapar. Sayang sekali makanan tersebut tercemar, sehingga mereka tak sadarkan diri.

Cerita yang sederhana, indah dan menyentuh kalbu. Walaupun pembaca tidak mengetahui berapa usia Aminah dan apakah is bersekolah atau tidak, tetapi pembaca dapat menyimpulkan bahwa Aminah adalah seorang gadis kecil yang cukup cerdas dan berbudi luhur. Buku ini bermuatan nilai keimanan dan pengetahuan lingkungan.

*Buku cerita “Aminah” merupakan Seri Bakti Pendidikan Artis. Lima cerita lainnya dikarang oleh Soraya Haque Soekarno, Trie Utami dan Andi Alta Amier, Vinny Alvionita dan Monica Oemardi, Gito Rolies, serta Dwiki Darmawan dan Ita Purnamasari. Selain sarat dengan nilai kebajikan buku ini dapat mendorong pembaca untuk berbahasa Indonesia dan Inggris dengan baik dan benar.

Dunia Upin-IPin Chikita Fawzi Suatu Saat untuk LP3I: Marissa Haque & Ikang Fawzi

Kamis, Maret 17th, 2011


Jum’at, 30 April 2010 - 15:39 wib

Tomi Tresnady - Okezone Ikang Fawzi (Foto:Johan Sompotan/okezone)

JAKARTA - Memang, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Jejak Ikang Fawzi yang beken sebagai penyanyi rock, diikuti oleh putri bungsunya, Marsha Chikita Fawzi (Kiki). Kiki tengah kuliah di Multimedia University (MMU) Malaysia. Selain fokus kuliah, Kiki menyempatkan waktu menekuni hobi di bidang musik. Diam-diam dia membentuk band rock bersama teman-teman prianya di sana.”Ternyata dia punya band, namanya Diary. Itu grup metal. Laki-laki semua, gondrong-gondrong. Dia perempuan sendiri.

Orang Malaysia sudah terbiasa sama dia. Orang Malaysia sangat bangga sama dia,” ungkap Ikang yang ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (29/4/2010) malam. Kiki terang-terangan menyatakan keinginan menjadi seorang entertainer seperti ayah dan ibunya. Tidak tanggung-tanggung, Kiki membidik pasar musik internasional.”Dia katanya mau tembus Singapura supaya dia bisa tembus internasional. Dengan bangga, dia bilang ke saya, ‘Ayah, sekarang saya jadi rock star’. Nangis saya dibuatnya,” aku Ikang. Sebagai orangtua, Ikang memberikan dukungan penuh kepada Kiki. Selama si bungsu berada di Negeri Jiran, Ikang selalu menyempatkan menjalin komunikasi. “Komunikasi tetap jalan. Lewat FB dan sms. Saya kangen lah, namanya juga anak bontot,” ujar suami Marissa Haque ini. (ang)

Sumber:http://celebrity.okezone.com/read/2010/04/30/34/328062/si-bontot-jadi-rock-star-ikang-fawzi-nangis

Wisuda LP3I Makassar yang Meriah dan Penuh Keakraban: Ikang Fawzi (KADIN Pusat), Yusran Paris (KADIN Sulsel), Yusfan Paris (LP3I Sulsel) & Marissa Haque

Minggu, Maret 13th, 2011

Selasa, 08 Maret 2011 | 21:11:45 WITA | 92 HITS
Marissa Haque Orasi di Wisuda LP31

MAKASSAR – Artis yang juga mantan anggota DPR RI, Marissa Haque akan menyampaikan orasi ilmiah dalam wisuda LP3I Makassar di Hotel Grand Clarion Makassar, Kamis, 10 Maret mendatang. Selain orasi, Marissa juga akan berbagi pengalama soal kiat sukses bagi wisudawan dan wisudawati LP3I.

Rencana kehadiran Marissa itu disampaikan Ketua Yayasan LP3I Makassar, HAM Yusran Paris kepada FAJAR Senin, 7 Maret. Menurut anggota DPRD Sulsel itu, pihaknya sengaja mengundang Marissa agar mahasiswa dan wisudawan LP3I bisa termotivasi dari kesuksesan perempuan yang pernah menjadi calon gubernur di Banten tersebut.

“Wisuda kali ini akan diikuti 150 orang wisudawan yang berasal dari jurusan sekretaris, komputer akuntansi, bisnis administrasi, office management, dan informatika komputer,” kata Yusran.

Selain orasi, wisuda juga akan dirangkaikan dengan penandatanganan kerja sama antara LP3I dengan beberapa perusahaan. Salah satunya dengan Alpa Mart dalam pengembangan kewirausahaan. (aha)

Sumber: http://www.fajar.co.id/read-20110307211145-marissa-haque-orasi-di-wisuda-lp31

LP3I Pekanbaru-Riau, bersama Kami Berdua: Ikang Fawzi & Marissa Haque

Rabu, Maret 9th, 2011


LP3I Pekanbaru, Riau, Ikang Fawzi & Marissa Haque, Pal Zulbar, Karya Pak Lasimunvenesia_italia_dalam_kenangan_ikang_dan_marissa_sept_1986_jpeg-copy

marissa-haque-istri-ikang-fawzi-duta-lp3i-2010-2012


Kalau diminta ke Pekanbaru, RIau kami berdua selalu semangat. Banyak teman disana. Terutama setelah Ikang Fawzi dan saya memiliki lebih banyak lagi teman karena menjadi Duta LP3I untuk masa dua tahun ditahu 2010 sampai insya Allah tahun 2012 nanti.
Doa kami berdua, semoga LP3I di Pekanbaru, Riau semakin jaya dan maju!
Allahu Akbar!

Hangatnya Wisuda LP3I Cilegon-Banten 2011: Marissa Haque & Ikang Fawzi

Rabu, Maret 9th, 2011

Hangatnya Wisuda LP3I Cilegon-Banten 2011 masih terasa sampai sekarang walau saat itu Ikang Fawzi suamiku sedang berhalangan hadir menemaniku. Para pemiliknya rupanya masih baraya para pendukungku saat dulu kampanye Pilkada Banten 2006 yang ’sensasional’ itu.

wisuda-lp3i-marissa-haque-cilegon-banten-2011Namun, sekarang kondisinya beda memang, dan atas izin Allah alhamdulillah tidak ada kesulitan berarti yang didapatkan didalam pengembangan LP3I di Cilegon, Banten.

Semoga LP3I Cilegon-Banten pada tahun 2011 kedepan semakin maju dan jaya. Semakin banyak peminatnya, dan Pak Walikota yang sekarang Iman Ariadi berkenan mendukung pengembangan bisnis mereka adanya.

Allahu Akbar!

“Imam Ghazali dalam Kehidupan Kami: Dikutip oleh Marissa Haque & Ikang Fawzi”

Jumat, Maret 4th, 2011

Menurut Imam Al-Ghazali, kepatuhan kepada Allah akan mengilapkan hati seseorang, sedangkan maksiat kepada-Nya, akan menghitamkannya. Nah, bagaimana dgn orang yg berbuat dosa lalu segera berbuat baik? Menurut Al Ghazali, hatinya tidak otomatis hitam. Cuma cahayanya jadi berkurang. Sama spt sebuah cermin yg tertutup hembusan nafas lalu disapu, kemudian dihembusi lagi, disapu lagi. Meski bersih, masih menyisakan keruh.

Sumber: http://marissahaque.blogdetik.com

“Imam Ghazali dalam Kehidupan Kami: Dikutip oleh Marissa Haque & Ikang Fawzi”