Marissa Haque & Ikang Fawzi: Semoga yang Diduga Para Penjahat Cyber Jangan Ganggu LP3I yang Kami Cintai

  • Dugaan Timses Ratu Atut Chosiyah dan Airin Rachmi Dianyatas Perbuatan Tidak Menyenangkan dan Pencemaran Nama Baik, Pasal 310 dan 311 KUHP yang dilakukan oleh oknum wartawan Inilah.com bernama ArisDanu Cahyono (HP: 021-99636662) dan Dua Orang Photo Up-loader Inilah.com bernama: (1) Rhino; dan (2) Rizwan Mengaku di Nomor Telpon Kantor: 021-7222338.
  • Senin besok ini, insya Allah bila tak ada halangan berarti kami: (1) saya Marissa Haque; dan Sahabat Cyber-ku (2) Engkong Ragile/kompasiana.com; (3) Vavai/Dulu Simpatisan Zul-Mar dari Bekasi; ditemani (4) Alfian Mujahiddin/Sekjen PITA Tangsel akan diterima oleh Wadir Krimsus (Kriminal Khusus) Polda Metro Jaya untuk melaporkan Kejahtan IT&E terkait delik pidana: (1) penghinaan; (2) perbuatan tidak menyenangkan; (3) pencemaran nama baik.
  • Semoga para polisi ahli dibidang kejahatan cyber tersebut mampu meng-crack para pemilik blogs ‘liar’ serta websites/portals yang dengan sengaja memakai SEO (Search Engine Optimizer) guna ‘yang diduga’ sengaja-by design-sistemik mencoba men-down-grade image baik saya, suami, serta kedua putri kami. Semisal yang mengatasnamakan rumahabi.info dan lain sebagainya yang dipenuhi dengan unsur sex.
  • Maka dilengkapi dengan beberapa print screen yang telah kami lakukan, seluruh data abal-abal tersebut yang dipenuhi delik pidana, insya allah dapat segera ditindaklanjuti dengan hukuman berdampak jera. Insya Allah…

Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

Tags: , , , , , , , , , , , ,

3 Responses to “Marissa Haque & Ikang Fawzi: Semoga yang Diduga Para Penjahat Cyber Jangan Ganggu LP3I yang Kami Cintai”

  1. Si Tukang Pos Indonesia Says:

    Karmin  detik.com): hidup yang singkat, mari kita rayakan
    dailyNovember 27, 2008 5:58 pm

    Tentang Marissa Haque

    siang di gedung aldevco, jalan warung buncit 75 jakarta, aku bertemu dia untuk pertama kalinya. memakai baju warna hijau tosca dan berkacamata. wow, ternyata dia lebih cantik dari yang tampak di televisi.

    marissa haque fawzi, orang mengenal dia sebagai aktris yang sekarang menekuni politik. setelah tersingkirkan dari partai moncong putih, kini dia hijrah ke partai bergambar kabah. tak banyak yang tahu, dia adalah seorang guru tuna rungu.

    keterlibatan beliau diawali pada 1998. saat kerusuhan mei itu, kantor perusaan filmnya hancur, dibakar dan di jarah. perusahaannya bangkrut. saat itulah ia mulai mengajar anak-anak yang mempunyai kekurangan khusus.

    alasan lainnya,sekolah khusus tuna rungu belum mendapat perhatian pemerintah. sedangkan sekolah biasa( normal) saja keadaanya masih belepotan.

    dari pengalaman mengajar itulah ia makin bisa mensyukuri nikmat Allah setiap saat. karena mempunyai anak-anak yang normal. dan dari situlah ia melihat ternyata ada banyak kekasih Allah yang bertebaran di muka bumi. kekasih Allah itu adalah para ibu yang mempunyai kesabaran luar biasa dalam menerima dan mendidik anaknya yang tuna rungu.

    ketotalannya dalam membantu anak-anak yang kurang beruntung itu ia buktikan dengan menerbitkan dua buku untuk mereka: aminah dan bahasa kasih yang di terbitkan oleh rosda karya bandung. seluruh penjualan buku itu ia sumbangkan untuk anak-anak tuna rungu.

    di kelas itu ia makin sensitif, baik pendengaran maupun perasaannya. karena setiap hari ia harus bisa dengan jelas mengartikulasikan kata-kata dengan benar. misalnya pejabat dengan penjabat.

    kalian mungkin ragu arti yang sebenarnya. benar. sesuai tesaurusnya eko endarmoko pejabat itu sinonim dengan atasan, kepala, pemimpin, penguasa. sedangkan penjabat adalah kata benda yang searti dengan akting.

    perempuan yang suka berkebun ini, sepanjang perbincangan yang nyaris dua jam itu selalu memakai pilihan kata yang teduh, santun. sekali-sekali mirip seorang ustadzah meski tidak berlebihan.

    nada bicaranya tegas dan sering memakai istilah-istilah hukum yang aku tak pahami. ia sadar lalu menerjemahkannya dengan bahasa yang lebih sederhana.

    selain kebisaannya yang telah di ketahui publik sebagai aktris, model, penulis skenario, produser, dan dosen dia juga pintar bermain piano dan mendadani orang.

    kesibukan lain mbak icha panggilannya, ia ikut bergabung pada 8 organisai. salah duanya adalah hkti dan ikadin. ia juga menjadi duta wwf untuk badak bercula satu dan duta kb mandiri.

    saat ini ia sedang fokus pada pemilihan caleg ppp untuk daerah pemilihan kota bandung dan cimahi dengan nomor urut 2. ia cukup optimis namun juga menyadari daerah tersebut bukan basis massa ppp.

    andai gagal, rencana berikutnya adalah kembali menekuni dunia film. sekedar mengingatkan, dia adalah produser yang pertama kalinya yang mengangkat hoakkiau (peranakan cina) ke dunia entertainmen. dialah yang mengorbitkan ferry salim dan ida isha dalam film kembang setaman.

    perempuan yang suka berlatih kungfu ini mengaku menyukai metafora. ide itu muncul karena melihat indonesia merupakan negeri yang beraneka macam budaya. dan jauh sebelum banyak orang membincangkan tkw, ia telah membuat filmnya “di bawah purnama aku berdoa”.

    doktor bidang pengelolaan sumberdaya Alam dan lingkungan hidup ini mengakhiri perbincangan ketika jemputannya sudah datang. tak lupa ia yang menyebutku dengan “adik kita” ini mengundang untuk bermain ke rumahnya. yuk…

  2. marissahaque-bmt Says:

    Allahu Akbar!

  3. marissahaque-bmt Says:

    10 Tahun Pernikahan Shahnaz Haque-Gilang Ramadhan: “Kalau Tidak Tahan, Anak Kami Bisa 24 Orang”

    Kamis, 10 Februari 2011 10:24
    Julian Edward

    * Surel
    * Cetak
    * PDF

    gilang-shahnaz-julian
    “PERNAH lihat orang Jepang bermata belo tidak?” celetuk Shahnaz Haque (38) sambil berpose dengan kostum kimono ala wanita Jepang.

    Sang suami, Gilang Ramadhan (47) hanya tersenyum melihat polah istrinya. Beberapa detik kemudian, Shahnaz sudah berada tepat di samping Gilang yang asyik menguyah kacang.

    “Kami sedang pacaran, lagi kencan,” ceplos Shahnaz tersenyum kecil.

    Pacaran yang dimaksud Shahnaz dan Gilang, tentu saja menghabiskan waktu bersama tanpa diusik ketiga anaknya.

    “Anak-anak kami sedang sekolah. Kami sering memanfaatkan waktu sempit ini untuk jalan-jalan,” ujar Gilang.

    Kami meminta pendapat Gilang tentang penampilan istrinya saat itu. “Hmm… jadi nafsu nih, habis kamu seperti paduan cewek Jepang dan India sih,” Gilang tersenyum nakal.

    Dibilang begitu, pipi Shahnaz memerah. Beginilah keseharian pasangan Shahnaz Haque-Gilang Ramadhan. Penuh keceriaan dan selalu mesra.

    “Tidak terasa, Mei nanti pernikahan kami berumur 10 tahun. Akhirnya, sampai juga ya pah, enggak disangka,” Shahnaz tersenyum dan disambut tawa Gilang.

    “Tapi Gilang bukan pria yang romantis. Dia tidak pernah memberi saya bunga, cokelat apalagi lagu. Dia hanya memberi saya tiga anak yang lucu-lucu dan mukanya mirip Gilang semua. Itu lebih dari cukup,” jawab Shahnaz ketika ditanya kado apa yang ingin ia terima dari Gilang di perayaan 10 tahun pernikahannya nanti.

    “Jadi, kami tidak bikin perayaan apa-apa. Kita bikin anak saja yuk pah,” Shahnaz tersenyum manja. Suami-istri ini berbagi pengalaman mengarungi bahtera rumah tangga 10 tahun terakhir lengkap dengan lika-likunya.

    Masa-masa Sulit di Awal Pernikahan

    Merunut awal percintaan hingga rumah tangga mereka dianugerahi tiga bidadari cantik, Shahnaz bertutur pernikahannya pernah melalui masa sulit.

    “Itu lumrah, setiap rumah tangga pasti mengalami itu,” bilang Shahnaz. Yang jadi perkara, Shahnaz-Gilang justru mengalami masa sulit di awal pernikahan.

    “Di usia 29 tahun, saya sudah memilki segalanya. Punya rumah sendiri dan materi yang berkecukupan, pekerjaan dan gelar.. Saya tidak terburu-buru menikah karena itu bukan sesuatu yang mendesak. Tiba-tiba Allah mempertemukan kami dan saya benar-benar tidak bisa berkutik,” ungkap Shahnaz.

    Itu yang jadi masalah. Meski Shahnaz yakin Gilang jodohnya, mengubah pola hidup yang sudah tersusun rapi kemudian hidup dalam satu atap tidak semudah membalikkan telapak tangan.
    Jelas ada perbedaan.

    ”Namanya juga rumah tangga, pastilah ada ribut-ribut kecil karena perbedaan pendapat. Menyatukan dua pribadi yang sudah matang itu sulit sekali,” bilang Shahnaz.

    Untungnya itu tidak lama. Satu bulan menikah, Shahnaz hamil. Keadaan berubah membaik.

    “Saya jadi percaya ungkapan anak bisa mempersatukan orangtua. Hubungan kami jadi dekat karena Gilang mengurusi kehamilanku,” sebut adik Marissa Haque ini.

    Sejak Shahnaz hamil, Gilang melakukan perubahan besar dalam hidupnya. Dari rocker menjadi pengasuh bayi.

    “Salah satu yang bikin kami bertahan sampai saat ini, karena saya tahu dia sayang banget dengan anak-anak. Dia ikut temani aku bangun jam dua pagi ketika aku harus menyusui bayi. Malah, dia lebih telaten dari aku dalam mengurus bayi,” ungkap Shahnaz.

    Yang dibutuhkan istri adaah sosok pria yang bisa melindungi dan merawat anak-anaknya. Gilang sudah lebih dari cukup memenuhi kriteria Shahnaz menjadi suami yang baik.

    Jika anak bisa mempersatukan mereka, tak heran bila sebulan setelah putri pertamanya, Pruistin Aisha, Shahnaz hamil lagi.

    “Awal-awal pernikahan kami sudah disibukkan dengan dua buah hati. Ternyata Gilang tokcer juga ya. Makanya, menikahlah dengan orang Sunda,” kata Shahnaz sambil terkekeh.

    Giliran Gilang menimpali sambil menahan senyum.

    “Mungkin, kalau tidak ditahan, anak kami bisa berjumlah 24 orang.”

    Gilang Ramadhan: Poligami?

    Era ’80 sampai ‘90-an, siapa yang tak kenal Gilang Ramadhan? Tabuhan drumnya mampu menyihir banyak wanita. Rockstar memang selalu identik dengan wanita.

    Namun, apa yang membuat Gilang bisa setia pada satu cinta?

    ”Saya punya prinsip, satu saja pusing mengurusnya apalagi dua atau tiga,” kata Gilang menjawab apakah dia setuju poligami.

    Ia membayangkan, jika dirinya menikah lagi, korbannya bukan hanya Shahnaz, tapi juga anak-anak.

    “Yang namanya kasih sayang itu enggak bisa dibagi-bagi. Anak-anak pasti merasakan,” cetusnya.

    Inilah yang menenangkan hati Shahnaz. Ia bersyukur, Tuhan menjodohkannya dengan Gilang.

    “Saya pernah berpikir. Mungkin melamun. Banyak pasangan lain yang tidak sebahagia saya. Ada maasalah rumah tangga atau kelakukan si suami yang aneh-aneh. Di situ saya bersyukur memiliki Gilang. Dai begitu menyayangi keluarga ini. Bahkan, bisa dibilang, dia lebih takut menyakiti hati anak-anaknya ketimbang menyakiti hati istrinya sendiri. Itu yang saya kagumi,” urai Shahnaz.

    Mereka berharap, usia rumah tangga ini tidak berhenti sampai bilangan sepuluh saja. Masih ada belasan dan puluhan tahun lagi yang harus dilalui.

    “Setiap hari kami berusaha membenahi kekurangan masing-masing. Komunikasi itu poin yang amat penting untuk pernikahan ini,” sebut Gilang.

    “Janji ya pah, jangan tinggalkan aku. Meninggalnya jangan cepat-cepat, nanti aku tidak ada yang menemani,” pinta Shahnaz diiringi anggukan kepala Gilang. Duh mesranya.

    (jul/gur)

    Sumber: http://www.tabloidbintang.com/berita/sosok/8819-10-tahun-pernikahan-shahnaz-haque-gilang-ramadhan-kalau-tidak-tahan-anak-kami-bisa-24-orang.html

Leave a Reply